IMMNews Faperta, Makassar – Pulau Lae-Lae. Sebuah nama yang mungkin tak sepopuler destinasi wisata bahari lain di Indonesia. Namun siapa sangka, pulau kecil yang berhadapan langsung dengan Kota Makassar ini justru menyimpan mozaik kehidupan yang kaya bukan hanya dari segi keindahan alamnya, tetapi juga dari dinamika sosial, kearifan lokal, dan harapan kolektif warganya.
Sebagai mahasiswa pertanian yang berkesempatan meneliti langsung di lapangan, saya menyaksikan bagaimana kehidupan di Pulau Lae-Lae berputar mengikuti irama laut. Laut bukan hanya bentang biru yang indah, tapi adalah nadi kehidupan bagi mayoritas warganya. Mereka adalah nelayan yang setiap pagi menantang gelombang, menebar jaring, dan menanti rezeki dari kedalaman.
“Jenis ikan tangkapan saya banyak,” tutur Pak Heri, nelayan yang kami wawancarai. “Kalau musim barat, hasilnya memang melimpah. Tapi gelombang juga tinggi. Risiko besar.”
Di Lae-Lae, musim bukan hanya fenomena alam. Ia adalah penentu hasil, penentu isi dapur, bahkan penentu kehidupan. Dalam wawancara dengan para nelayan, jelas terlihat bahwa pemahaman mereka tentang musim, arus, dan ekologi laut bukan sekadar ilmu turun-temurun, tetapi menjadi strategi adaptasi yang bijak dan cerdas.
Perikanan Tradisional: Warisan yang Perlu Dilestarikan
Penggunaan alat tangkap tradisional seperti pancing ulur, bubu, panah ikan, dan jaring insang masih mendominasi. Tidak ada bom, tidak ada trawl. Sebuah bukti bahwa kearifan lokal tetap menjadi pelindung terakhir keberlanjutan laut. Mereka sadar: jika laut rusak, mereka akan kehilangan segalanya.
“Harapan saya, jangan ada lagi yang pakai bom. Dulu saya sempat tahan juga orang yang coba-coba,” kata Pak Heri lagi, dengan nada tegas namun sarat kepedulian.
Saya melihat bahwa masyarakat di Lae-Lae tidak butuh teori konservasi yang rumit. Mereka sudah melakukannya. Yang mereka butuhkan adalah dukungan dari kebijakan, teknologi tepat guna, hingga jaminan harga hasil tangkapan yang layak.
Dari Agroforestri hingga Energi Terbarukan
Pulau ini tidak hanya hidup dari laut. Lae-Lae juga memiliki potensi darat yang menjanjikan. Kebun kelapa, kakao, dan aneka rempah tersebar di sudut-sudut pulau. Sebagai mahasiswa pertanian, saya melihat ini sebagai peluang untuk mengembangkan agroforestri berbasis masyarakat yang ramah lingkungan.
Tak hanya itu, potensi energi matahari dan angin juga sangat besar. Bayangkan sebuah pulau kecil yang bisa menjadi percontohan energi bersih di Indonesia. Panel surya dan turbin angin bisa menggantikan ketergantungan pada bahan bakar fosil yang harganya terus melambung.
“Saya bingung beli bensin. Harganya mahal dan proses belinya ribet,” keluh Pak Madili, pemilik perahu kecil.
Kebijakan energi harus menyentuh mereka yang ada di garis depan. Masyarakat pesisir tidak boleh lagi dibebani harga bensin yang mahal hanya karena mereka tinggal di pulau kecil.
Wisata Bahari yang Butuh Pendekatan Bijak
Pantai berpasir putih, terumbu karang, dan sunset yang memukau menjadi kekuatan wisata Lae-Lae. Tapi jangan salah wisata juga bisa jadi ancaman jika tidak dikelola secara berkelanjutan. Beberapa titik karang telah mengalami kerusakan, dan tanpa langkah konservasi nyata, kita bisa kehilangan salah satu aset ekologis penting di pesisir Makassar.
Solusinya? Libatkan masyarakat lokal dalam tata kelola wisata. Berikan mereka pelatihan, alat selam, dan peluang usaha baru seperti pemandu wisata snorkeling berbasis komunitas. Biarkan mereka menjadi penjaga sekaligus pemandu keindahan alam mereka sendiri.
Mimpi di Ujung Laut
Pulau Lae-Lae adalah potret miniatur Indonesia kaya sumber daya, kuat dalam budaya lokal, namun rentan oleh eksploitasi dan minimnya dukungan kebijakan yang tepat sasaran. Tapi Lae-Lae juga menyimpan harapan. Harapan dari para nelayan, dari anak-anak yang bermain di dermaga, dan dari generasi muda yang ingin pulau ini tetap hidup dan lestari.
Bagi saya sebagai mahasiswa pertanian, Lae-Lae mengajarkan lebih dari sekadar teori. Ia mengajarkan tentang nilai, tentang ketekunan, dan tentang keberanian menjaga alam demi masa depan bersama.
“Pulau kecil bukan berarti kecil peran,” begitu kesimpulan saya setelah menyelesaikan penelitian ini.
Lae-Lae adalah laboratorium kehidupan yang seharusnya menjadi perhatian serius, bukan hanya oleh pemerintah daerah, tapi juga oleh kita semua. Karena dari pulau kecil inilah, kita bisa belajar bagaimana membangun negeri dari laut, dari rakyat, dan dari bumi yang kita jaga bersama.
Editor’s Note: Artikel ini ditulis oleh Mahasiswa Fakultas Pertanian & Kader IMM Fakultas Pertanian yang sedang melakukan penelitian lapangan di Pulau Lae-Lae sebagai bagian dari studi tentang pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan di wilayah pesisir.


Komentar