IMMNews Faperta, Makassar – Setiap kali berita tentang banjir bandang, badai ekstrem, atau longsor melintas di layar, saya semakin yakin bahwa bencana hari ini bukan sekadar “kejadian alam”. Ia adalah refleksi dari bagaimana kita manusia modern dengan semua teknologi dan ambisi pembangunannya telah menggeser keseimbangan yang sudah lama dijaga oleh bumi. Banyak ilmuwan lingkungan menyebut fenomena ini sebagai anthropocene, era di mana aktivitas manusia menjadi kekuatan geologis yang mengubah muka bumi (Crutzen & Stoermer, 2000). Dan saya percaya, kita sedang hidup tepat di pusat era tersebut.
Fenomena alam seperti hujan lebat atau letusan gunung adalah proses yang berlangsung jauh sebelum manusia mengenal peradaban. Namun, seperti yang dijelaskan dalam laporan IPCC tentang perubahan iklim, intensitas dan dampaknya kini meningkat karena campur tangan manusia mulai dari alih fungsi lahan, emisi yang terus naik, hingga eksploitasi sumber daya secara tidak bijak (IPCC, AR6). Dengan kata lain, alam tidak tiba-tiba menjadi pemarah, justru kita yang terlalu berani menguji batasnya.
Saya teringat peringatan moral dalam Laudato Si’, ensiklik Paus Fransiskus, yang menegaskan bahwa krisis ekologis adalah cerminan krisis moral manusia, keserakahan, budaya konsumsi berlebih, serta ketidakpedulian terhadap generasi mendatang (Paus Fransiskus, 2015). Gagasannya tentang ecological conversion atau “tobat ekologis” mengajak kita untuk berhenti menempatkan diri sebagai penguasa alam, dan kembali menjadi penjaga.
Jika menengok ke tradisi Islam, pandangan serupa juga jelas, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia…” (QS. Ar-Rum 30:41). Ayat ini bukan sekadar teguran spiritual, melainkan seruan etis agar manusia bertanggung jawab atas rusaknya keseimbangan ekologis. Saya melihat kedua tradisi besar ini sebenarnya bertemu pada satu titik bumi rusak bukan karena alam berubah, tetapi karena manusia mengubah cara memperlakukan alam.
Masalahnya, kerusakan lingkungan bukan hanya hasil tindakan individu melainkan pilihan kolektif. Kebijakan tata ruang yang longgar, pembiaran eksploitasi hutan, minimnya pengawasan lingkungan, hingga budaya politik yang lebih mengutamakan keuntungan jangka pendek ketimbang keberlanjutan, semua itu saling melengkapi dalam menciptakan bencana. Banyak studi tentang governance menegaskan bahwa akar masalah ekologis sering kali bukan terletak pada kurangnya regulasi, tetapi lemahnya implementasi di lapangan (Ostrom, 2009; UNDP Environmental Governance Report).
Kenyataan pahitnya adalah saat ini kita hidup berdampingan dengan bencana. Tidak semua bisa dicegah. Perubahan iklim telah mengunci sebagian risiko. Bentang alam kita telah banyak yang terfragmentasi. Namun, laporan-laporan global seperti UNDRR Global Assessment Report menekankan bahwa risiko masih dapat diperkecil melalui tata kelola yang transparan, penegakan hukum lingkungan yang konsisten, dan budaya mitigasi bencana yang serius bukan sekadar slogan.
Ada satu pikiran yang sering membuat saya merenung, bumi kita ini sebenarnya tidak membutuhkan manusia untuk bertahan. Planet ini telah melewati zaman es, kepunahan massal, dan perubahan bentuk yang ekstrem. Kita hanya salah satu episode singkat dalam sejarahnya yang panjang. Yang terancam punah bukanlah bumi, tetapi pola hidup yang memungkinkan kita bertahan diAhmad Syafii Hafid, Ketua Umum PIKOM IMM Faperta Unismuh Makassar 2024–2025 atasnya. Karena itu, kepedulian terhadap bumi sejatinya adalah kepedulian terhadap diri sendiri dan generasi yang akan datang.
Mengakui “dosa ekologis” istilah moral yang digunakan oleh banyak pemikir etika lingkungan bukan berarti menyalahkan diri tanpa solusi. Ini adalah langkah pertama untuk membangun peradaban yang lebih rendah hati, lebih bijak, dan lebih sadar batas. Batas mengambil, batas merusak, batas mengabaikan tanda-tanda alam.
Jika kita ingin bumi tetap layak dihuni cucu-cucu kita, maka keberanian untuk berubah harus dimulai sekarang, dari gaya hidup individu, dari komunitas, dari kebijakan publik, dan dari keberanian moral untuk berkata “cukup” pada praktik yang merusak. Bumi mungkin tidak membutuhkan kita, tetapi masa depan kita sepenuhnya bergantung pada keputusan hari ini.


Komentar