Opini
Beranda » Berita » Ketika Khalifah Melupakan Perannya sebagai Abdullah

Ketika Khalifah Melupakan Perannya sebagai Abdullah

Rifaldi Gunawan, Ketua Umum PIKOM IMM Faperta Unismuh Makassar 2020–2021
Bagikan ke :

IMMNews Faperta, Makassar – Saya sering merenung setiap kali berdiri di atas mimbar. Di hadapan jamaah, saya menyampaikan pesan yang terus berulang dari khutbah ke khutbah bahwa manusia adalah Khalifah (Pemimpin/Pengelola ataupun Pengganti) dan sekaligus Abdullah (Hamba Allah). Dua gelar ini seharusnya menjadi pedoman kita dalam menapaki bumi. Namun setiap kali saya mengucapkannya, saya pun merasa betapa perlahan manusia mulai jauh dari kedua jati diri itu. Kita berjalan di dunia ini seakan-akan tanpa arah, tanpa pedoman, lupa tujuan, dan lupa batas. Kita memegang kekuasaan, tetapi kita lupa kepada siapa kekuasaan itu harus dipertanggungjawabkan.

Dalam identitas sebagai Khalifah (Pemimpin/Pengelola ataupun Pengganti), manusia diberi amanah untuk menjaga bumi, dengan menata, merawat, dan memastikan kehidupan berjalan dalam keseimbangan dan berkelanjutan. Namun amanah itu akan dengan mudah berubah menjadi pemakluman atas keserakahan, ketika manusia lupa bahwa ia juga merupakan Abdullah (seorang hamba Allah). Seorang hamba seharusnya tunduk pada aturan Tuhannya, tidak merusak apa yang telah dititipkan, tidak melanggar batas yang sudah digariskan. Dan saat manusia melupakan identitas penghambaan itulah, ia mulai menganggap bumi sebagai miliknya, bukan sebagai amanah. Dari sinilah kerusakan mulai tumbuh pelan-pelan, sampai akhirnya kita tak lagi mampu menutup mata terhadap akibatnya.Rifaldi Gunawan, Ketua Umum PIKOM IMM Faperta Unismuh Makassar 2020–2021

Lihatlah apa yang terjadi di sekitar kita. Banjir bandang melanda desa-desa, tanah longsor menyapu rumah dan kebun, sungai-sungai yang dulu jernih kini berubah menjadi aliran lumpur dan sampah. Sumatera, misalnya dengan hutan-hutannya yang luas dan sungai-sungai yang kuat hari ini berkali-kali menjadi saksi murka ekologis. Kabut asap menyelimuti udara, banjir merendam kampung, dan longsor terjadi di lereng yang dulu hijau. Ini bukan sekadar “bencana alam”. Ini adalah cermin yang menampilkan wajah kita sendiri. Sebuah pantulan dari kelalaian dan ketamakan.

Dalam Islam, bencana bukanlah peristiwa yang terpisah dari perilaku manusia. Allah telah mengingatkan dengan tegas bahwa kerusakan di darat dan laut adalah akibat ulah tangan manusia sendiri (Q.S Ar-Rum : 41). Itulah hukum sebab-akibat, sunnatullah yang tidak mungkin kita hindari. Jika hutan dirusak, maka tanah akan kehilangan pegangan. Jika sungai dicemari, maka banjir akan mencari jalannya. Jika gunung digali tanpa etika, maka tanah longsor tinggal menunggu waktu. Inilah refleksi dari manusia yang tetap ingin menjadi Khalifah (pengelola), tetapi lupa bahwa ia juga Abdullah (hamba tuhan) yang harus tunduk kepada batas-batas kearifan.

Dan menariknya, kritik serupa datang dari dunia di luar agama. Gerakan Deep Ecology, yang digagas oleh pemikir atau filsuf seperti Arne Naess, menyuarakan gagasan yang sejatinya sangat dekat dengan nilai-nilai tauhid. Mereka mengatakan bahwa manusia bukan pusat kehidupan. Alam tidak diciptakan untuk manusia saja. Semua makhluk di bumi memiliki nilai intrinsik, sebuah nilai untuk dirinya sendiri, bukan untuk dimanfaatkan oleh manusia. Mereka menyebut penyakit terbesar manusia sebagai “antroposentrisme”, yakni cara berpikir yang menempatkan manusia sebagai penguasa tunggal alam.

Mengapa Kita Harus Mengakui “Dosa Kolektif” Terhadap Bumi?

Ketika saya membaca pandangan ini, saya merasa seolah sedang membaca ulang pesan penciptaan manusia dalam Al-Qur’an. Islam sudah sejak awal mengingatkan agar manusia menjaga keseimbangan, tidak melampaui batas, tidak bertindak zalim terhadap bumi. Deep Ecology menyebutnya pergeseran paradigma, sedangkan Islam menyebutnya kembali kepada tauhid, kepada kesadaran bahwa kita hanyalah hamba Allah.

Suara peringatan juga datang dari organisasi lingkungan hidup kita sendiri, Wahana Lingkungan Hidup (WALHI). Dalam berbagai laporan dan advokasinya, WALHI selalu menegaskan bahwa bencana ekologis di Indonesia bukanlah murni bencana alam, melainkan bencana akibat pilihan manusia. Deforestasi, pertambangan serampangan, perkebunan monokultur yang meluas tanpa kontrol, penataan ruang yang buruk semuanya adalah akar sistemik dari bencana yang terjadi. WALHI menyebutnya sebagai bentuk ketidakadilan ekologis. Masyarakat kecil, petani, masyarakat adat, meskipun mereka yang paling sedikit merusak justru menjadi pihak yang paling menderita.

Ketika kita menggabungkan semuanya ajaran agama, kritik ilmiah, dan suara aktivisme semuanya mengarah pada satu kesadaran yang sama, yaitu manusia telah melampaui batas. Kita lupa terhadap peran sebagai Abdullah (hamba Allah). Kita menjalankan kekuasaan tanpa penghambaan, dan dari situlah kekuasan itu berubah menjadi bencana.

Saat ini, ketika banjir datang, kita bertanya kepada langit “mengapa?”. Ketika longsor terjadi, kita bertanya kepada bumi “kenapa?”. Padahal jawaban itu tidak tidur di langit dan tidak terkubur di tanah. Jawaban itu ada dalam cara kita memperlakukan bumi selama puluhan tahun ke belakang.

Sebagai khatib yang selalu mengingatkan ini, saya sebenarnya sedang mengingatkan diri saya sendiri. Bahwa menjadi Khalifah (pengelola) bukan berarti berkuasa, tetapi menjaga. Menjadi Abdullah (hamba Allah) bukan berarti lemah, tetapi tunduk pada batasan yang menyeimbangkan kehidupan. Dan hanya ketika dua peran itu berjalan beriringan, barulah bumi kembali menjadi tempat yang aman, teratur, dan penuh berkah.

Menjaga Arah di Tengah Gelombang: Catatan Seorang Ketua Umum

Bumi tidak membutuhkan manusia. Kitalah yang membutuhkan bumi. Dan selama manusia masih lupa perannya, selama itulah bumi akan terus mengirimkan tanda-tandanya, bukan untuk menghukum, tetapi untuk mengingatkan. Agar kita kembali kepada jati diri yang telah Allah tetapkan, yakni Khalifah (Pengelola) yang bertanggung jawab, dan Abdullah (Hamba Allah) yang taat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement