IMMNews Faperta, MAKASSAR – Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menggelar Sekolah Advokasi di Gedung Fakultas Pertanian, Lantai 6, Senin hingga Selasa (7–8 Juli 2025).
Kegiatan ini mengangkat tema Nalar Kritis, Aksi Progresif, sebagai respon atas berbagai persoalan kampus dan isu-isu agraria yang semakin kompleks.
Ketua Pikom IMM Faperta, Ahmad Syafii Hafid, mengatakan kegiatan ini lahir dari keresahan mahasiswa terhadap dinamika kampus, khususnya di Fakultas Pertanian.
Menurut dia, masih banyak persoalan seperti ketimpangan akses informasi akademik, rendahnya partisipasi mahasiswa dalam pengambilan keputusan, dan minimnya edukasi advokasi di tingkat fakultas.
“Kampus seharusnya menjadi ruang aman untuk berpikir kritis, bukan hanya tempat menyelesaikan kewajiban akademik. Mahasiswa harus dibekali keterampilan advokasi agar mampu memperjuangkan hak-haknya dan berkontribusi membangun kampus yang lebih demokratis serta peduli pada isu-isu sosial, termasuk sektor pertanian,” ujar Syafii.
Dekan Fakultas Pertanian Unismuh Makassar, Dr. Ir. Andi Khaeriyah, M.Pd., IPU., turut hadir membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi inisiatif IMM Faperta yang dinilai sejalan dengan tantangan dunia pertanian saat ini.
Menurut Khaeriyah, tantangan sektor pertanian tidak lagi sekadar soal produksi, melainkan juga menyentuh aspek keadilan, pemberdayaan petani, dan keberlanjutan lingkungan.
“Tantangan sektor pertanian saat ini lebih banyak bersifat struktural. Oleh karena itu, mahasiswa pertanian harus mengembangkan kapasitas advokasi agar tidak hanya menjadi lulusan teknis, tetapi juga menjadi agen perubahan yang kritis dan berani bersuara,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Fakultas Pertanian, Ir. Muh. Ikbal, S.Pi., M.Si., IPM., mengatakan, pihak fakultas mendukung penuh kegiatan seperti Sekolah Advokasi. Ia berharap mahasiswa memiliki literasi advokasi yang baik agar mampu menjadi bagian dari solusi, bukan hanya pengkritik.
“Fakultas selalu membuka ruang untuk nalar kritis mahasiswa, selama tetap dalam koridor etika akademik dan nilai-nilai Muhammadiyah,” tegas Ikbal.
Selain materi teori dan praktik advokasi, Sekolah Advokasi IMM Faperta juga membahas isu-isu strategis seperti reforma agraria, peran mahasiswa dalam pembangunan desa, serta pentingnya advokasi berbasis data untuk menghadapi ketimpangan sosial-ekonomi, khususnya di sektor pertanian.
IMM Faperta berharap, melalui kegiatan ini akan lahir kader advokat muda yang tidak hanya tajam secara intelektual, tetapi juga progresif dalam bertindak, sejalan dengan nilai dasar IMM sebagai gerakan keilmuan, keislaman, dan kemanusiaan.
Komentar