Opini

Hari Pendidikan Nasional 2025: Merdeka Belajar dalam Arus Digital, Tantangan Mahasiswa Menghidupkan Gagasan Ki Hajar Dewantara

Oleh: Rilian Cahya Mutmainnah (Ketua BEM Faperta Unismuh Makassar 2024–2025).
Bagikan ke :

IMMNews Faperta, MAKASSAR – Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei bukan sekadar rutinitas kalender, melainkan momen strategis untuk merefleksikan arah serta esensi pendidikan bangsa. Di tengah gempuran teknologi, disrupsi informasi, dan realitas sosial yang kompleks, pendidikan harus dimaknai ulang: bukan hanya transmisi pengetahuan, tapi proses pembebasan pikiran, pembentukan karakter, serta pembangunan kesadaran kritis sosial.

Gagasan luhur Ki Hajar Dewantara, tokoh utama dalam sejarah pendidikan Indonesia, masih sangat relevan. Prinsipnya yang terkenal:
“Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”
adalah cerminan ideal pendidikan: menghadirkan teladan di depan, menguatkan semangat di tengah, dan memberi dorongan dari belakang. Filosofi ini menekankan nilai partisipatif dalam pendidikan—bukan otoritatif, bukan transaksional.

Namun, realita hari ini menunjukkan bahwa semangat tersebut belum sepenuhnya mewujud dalam sistem pendidikan nasional. Komersialisasi pendidikan, kesenjangan akses, serta kurikulum yang kadang belum menyentuh konteks sosial mahasiswa adalah tantangan serius yang perlu dijawab, bukan dibiarkan.

Digitalisasi Pendidikan: Antara Akselerasi dan Disrupsi

Pandemi COVID-19 adalah titik balik pendidikan Indonesia. Ia memaksa institusi untuk beradaptasi dengan teknologi. Kini, pembelajaran daring, seminar virtual, dan literasi digital telah menjadi bagian permanen dari sistem pendidikan tinggi.

Namun transformasi ini datang dengan dua sisi. Di satu sisi, teknologi memperluas akses belajar—mahasiswa bisa menggali ilmu dari mana saja, kapan saja. Di sisi lain, muncul ancaman distraksi digital, banjir informasi yang tak tervalidasi, dan menurunnya kualitas interaksi sosial. Maka, pendidikan digital tidak cukup hanya dengan menghadirkan gadget dan jaringan internet; yang dibutuhkan adalah kompetensi literasi digital, etika bermedia, dan kesadaran kritis.

Hari Kebangkitan Nasional: Merefleksi Peran Kaum Terdidik dalam Menjawab Tantangan Zaman

Mahasiswa tidak boleh berhenti pada peran sebagai konsumen pasif teknologi. Kita harus bergerak menjadi produsen nilai: menciptakan konten edukatif, riset berbasis teknologi, hingga gerakan literasi digital berbasis masyarakat. Inilah saatnya mahasiswa menjelma menjadi garda depan dalam transformasi pendidikan nasional.

Merdeka Belajar: Antara Ideal dan Realitas

Kebijakan Merdeka Belajar yang digagas Kemendikbudristek sejatinya membuka ruang baru bagi kebebasan akademik. Namun, realisasinya masih menemui kendala di level implementasi. Di banyak kampus, kebebasan belajar masih dibatasi struktur birokrasi dan sistem pengajaran yang belum fleksibel.

Bagi kami mahasiswa, merdeka belajar berarti kebebasan menuntut ilmu sesuai potensi dan kebutuhan pribadi, tanpa melupakan tanggung jawab sosial. Kebebasan itu bukan bebas nilai, tapi berbasis tujuan: untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana amanat konstitusi.

Mahasiswa sebagai Agen Transformasi

Sebagai Ketua BEM Fakultas Pertanian Unismuh Makassar, saya percaya bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi “produk” dari sistem pendidikan. Kita harus menjadi penggerak perubahan—mengawal kebijakan pendidikan, mengkritisi sistem yang timpang, dan menghadirkan solusi bagi masyarakat.

Mahasiswa pertanian, khususnya, memegang peran strategis. Di tengah krisis pangan global dan isu lingkungan, pendidikan pertanian harus bersentuhan langsung dengan realitas agraria, akses petani terhadap teknologi, dan keberlanjutan ekosistem. Artinya, kita tidak hanya belajar di ruang kelas, tapi harus terlibat langsung dalam problematika rakyat.

Hari Buruh, Lebih dari Sekadar Libur Nasional: Sebuah Refleksi atas Makna dan Perjuangan

Penutup: Menghidupkan Semangat Ki Hajar Dewantara

Pendidikan bukan sesuatu yang selesai diwariskan, tetapi harus terus diperjuangkan. Mahasiswa adalah bagian penting dalam perjuangan itu—bukan hanya sebagai penerima, tapi juga sebagai pencipta dan penjaga nilai. Hari Pendidikan Nasional 2025 menjadi pengingat: bahwa masa depan pendidikan Indonesia ada di tangan generasi yang kritis, kolaboratif, dan sadar akan peran sejarahnya.

Sebagaimana yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara, mari kita menjadi:

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2025.
Pendidikan adalah jalan panjang. Kita masih berjalan. Kita belum selesai.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement