IMMNews Faperta, [ Gowa, 24-26 Oktober 2025 ] – Saya tidak tahu apakah kepemimpinan benar-benar bisa diakhiri dengan sebuah ketok palu dan ucapan “demisioner”. Sebab ketika suara itu bergema di ruang musyawarah malam tadi, yang terasa justru bukan akhir, melainkan jeda yang panjang seperti seseorang yang baru selesai berlari, lalu menatap ke belakang sambil bertanya: sudah sejauh apa sebenarnya langkah ini membawa perubahan?
Saya pernah berpikir bahwa menjadi Ketua IMM berarti memimpin orang lain. Tapi setelah satu periode penuh, saya sadar bahwa yang paling sulit dipimpin justru diri sendiri: mengatur emosi ketika kritik datang, menahan kecewa ketika rekan seperjuangan pergi satu per satu, dan menjaga idealisme agar tak dikorbankan demi kenyamanan. Jabatan hanya sementara, tapi luka dan pelajaran dari kepemimpinan itu menetap lebih lama dari yang saya bayangkan.
IMM bagi saya bukan sekadar organisasi mahasiswa. Ia rumah bagi ideologi dan tanggung jawab moral. Di dalamnya, saya belajar bahwa keberanian bukan hanya melawan yang di luar, tapi juga menegur yang di dalam. Bahwa tidak semua perbedaan harus disatukan, dan tidak semua kesalahan harus ditutupi atas nama solidaritas. IMM adalah tempat di mana gagasan diuji, bukan dibungkam. Tempat di mana idealisme ditempa, bukan dipoles.
Setahun terakhir, saya menyaksikan langsung bagaimana gerakan mahasiswa Islam di kampus mulai kehilangan napas panjangnya. Banyak yang lebih sibuk membangun citra di media sosial daripada membangun kesadaran di basis massa. Kita hidup di zaman ketika aktivisme berubah menjadi estetika. Semua ingin terlihat kritis, tapi jarang yang benar-benar mau berpikir panjang. Di tengah situasi ini, IMM setidaknya bagi saya masih harus menjadi tempat terakhir di mana kata “gerakan” punya makna.
Menjadi Ketua IMM di Fakultas Pertanian bukan perkara mudah. Saya memimpin di tengah situasi kampus yang perlahan kehilangan gairah membaca, di tengah generasi yang cepat kagum tapi cepat lupa. Saya melihat sendiri bagaimana semangat kader sering kali padam bukan karena lelah berjuang, tapi karena tak tahu lagi apa yang sedang diperjuangkan. Maka saya mencoba mengembalikan IMM ke akar ideologinya: menghidupkan Trilogi dan Trikoda, bukan sekadar menghafalnya.
Hari ini, secara formal, saya sudah demisioner. Tapi siapa bilang kepemimpinan berhenti di palu sidang? Saya masih membawa semua suara yang pernah saya dengar dari kader, semua perdebatan di sekretariat, semua malam panjang di mana kami duduk bersama dengan segelas kopi dan selembar keresahan.
Menjadi Ketua IMM Faperta bukan tentang memimpin orang banyak, tapi tentang bagaimana tetap jujur di hadapan nurani sendiri. Tentang bagaimana menjaga idealisme tetap menyala di tengah zaman yang mematikan semangat berpikir. Tentang bagaimana bertahan ketika organisasi mulai terasa lebih birokratis ketimbang ideologis.
Selama satu periode, saya belajar bahwa IMM hari ini sedang diuji: antara jadi gerakan yang berpikir atau sekadar gerombolan yang sibuk berfoto. Banyak yang bangga memakai jasnya, tapi lupa apa maknanya. Banyak yang rajin mengikuti forum, tapi kehilangan arah setelah tepuk tangan berhenti. Di situ, saya mengerti bahwa tugas ketua bukan membuat orang kagum, tapi membuat orang sadar.
Saya sering bilang pada kawan-kawan: “Kita ini bukan sekadar mahasiswa Muhammadiyah yang berpakaian rapi dan bicara sopan. Kita ini murid dari sejarah panjang: sejarah perlawanan, pencerahan, dan pembebasan.” Tapi saya juga tahu, bicara nilai-nilai seperti itu di zaman sekarang sering terdengar asing. Sebab banyak yang lebih tertarik dengan citra ketimbang cita-cita.
IMM Faperta di periode saya berusaha melawan kelumpuhan itu. Kami bicara lagi soal Trilogi dan Trikoda Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas tapi tidak sebagai hafalan kaderisasi. Kami jadikan ia pijakan nyata: religiusitas sebagai komitmen moral, intelektualitas sebagai keberanian berpikir, dan humanitas sebagai keberpihakan. Dari situlah lahir kerja-kerja kecil yang mungkin tak masuk headline, tapi berarti bagi masyarakat.
Kami turun ke lapangan dengan hidroponik, greenhouse, dan gerakan tani muda. Kami tidak sedang pamer inovasi, kami sedang berdialog dengan tanah, dengan petani, dengan kenyataan. Kami ingin membuktikan bahwa dakwah bisa berwujud sayur, air, dan kerja sunyi di lahan-lahan yang sepi. Bahwa Islam Berkemajuan tidak harus bising di ruang seminar, tapi bisa tumbuh dari bibit yang kita tanam sendiri.
Saya tahu, banyak yang menilai kepemimpinan dari berapa besar acara yang dibuat. Tapi bagi saya, ukuran keberhasilan bukan pada megahnya spanduk, melainkan pada seberapa banyak pikiran yang tumbuh setelah forum selesai. Kalau ada satu kader yang mulai menulis, satu mahasiswa yang mulai berpikir kritis, atau satu warga yang terbantu karena program kami, saya anggap itu kemenangan kecil yang cukup.
Kini setelah jas itu saya lepas, saya justru merasa lebih bebas untuk berbicara. Saya bisa mengakui bahwa tidak semua keputusan saya tepat, tidak semua program berjalan mulus, dan tidak semua orang puas. Tapi bukankah di situlah esensi belajar? Pemimpin bukan orang yang tak salah, tapi yang berani menanggung salahnya tanpa mencari kambing hitam.
IMM mengajarkan saya banyak hal. Bahwa dalam setiap idealisme, ada kesepian yang harus diterima. Bahwa dalam setiap perjuangan, ada orang-orang yang akan pergi. Bahwa tidak semua yang kita perjuangkan akan berhasil tapi semua yang kita perjuangkan akan berarti, kalau kita melakukannya dengan niat yang jujur.
Saya sering berpikir, barangkali organisasi seperti IMM memang tidak dirancang untuk membuat orang nyaman. Ia dirancang untuk mengguncang, mengajak berpikir, dan kadang membuat kita lelah. Tapi di situlah nilainya. Karena di tengah arus pasif generasi digital, organisasi seperti IMM adalah satu-satunya ruang yang masih berani berbicara tentang cita-cita.
Kini saya tidak lagi duduk di kursi ketua. Tapi saya tetap percaya bahwa gerakan ini tidak boleh padam hanya karena satu periode berakhir. Bara itu harus dijaga. Sebab sejarah IMM tidak pernah ditulis oleh mereka yang menikmati jabatan, tapi oleh mereka yang setia bahkan ketika tak lagi punya posisi.
Dan kepada adik-adik kader yang akan melanjutkan, saya hanya ingin bilang: jangan warisi sekat, warisilah semangat. Jangan jadikan IMM sekadar tempat pelarian akademik, tapi jadikan ia laboratorium nilai dan nalar. Jangan puas jadi organisatoris, jadilah intelektual yang bergerak.
Saya tidak tahu apakah tulisan ini akan dibaca banyak orang. Tapi saya menulisnya sebagai penanda kecil bahwa kepemimpinan saya bukan berhenti di laporan pertanggungjawaban, tapi berlanjut dalam kesadaran. Saya ingin diingat bukan sebagai “Ketua Ahmad Syafii”, tapi sebagai seorang kader yang pernah berjuang menjaga bara kecil agar tidak padam di tengah gelap zaman.
Karena setelah jas dilepas, yang tersisa bukan jabatan melainkan keyakinan bahwa gerakan ini masih mungkin tumbuh, selama masih ada satu orang saja yang percaya: bahwa berpikir itu ibadah, dan bergerak itu dakwah.


Komentar