Opini
Beranda » Berita » Menjaga Arah di Tengah Gelombang: Catatan Seorang Ketua Umum

Menjaga Arah di Tengah Gelombang: Catatan Seorang Ketua Umum

Oleh: Ilyas Julianto Ketua Umum PIKOM IMM Fakultas Pertanian Unismuh Makassar Periode 2025–2026
Bagikan ke :

IMMNews Faperta, Makassar – Menjadi Ketua Umum PIKOM IMM Fakultas Pertanian bukanlah sesuatu yang saya bayangkan sejak awal bergabung di IMM. Tidak ada mimpi besar tentang posisi, tidak ada ambisi untuk berdiri paling depan. Yang ada hanyalah proses panjang: ruang-ruang diskusi yang panas, dinamika organisasi yang kadang melelahkan, pertemuan-pertemuan kecil di sudut kampus, juga kegagalan-kegagalan yang pelan-pelan mengajarkan makna tentang tanggung jawab.

Saat amanah itu benar-benar datang, yang pertama saya rasakan justru bukan rasa bangga, melainkan rasa sunyi. Sunyi karena kesadaran: bahwa sejak detik itu, setiap keputusan yang saya ambil bukan lagi tentang diri saya, tapi tentang banyak orang yang mempercayakan harapan pada organisasi ini.

Saya melihat banyak organisasi mahasiswa tumbuh besar dengan agenda, tetapi mengecil dalam makna. Ramai kegiatan, penuh dokumentasi, tapi miskin refleksi. Karena itu saya tidak ingin PIKOM IMM Faperta berjalan hanya sebagai mesin acara. Saya ingin ia menjadi ruang kesadaran. Tempat kader bukan sekadar sibuk, tapi juga mengerti mengapa mereka sibuk. Tempat aktivitas tidak hanya menjadi rutinitas, tapi juga jalan pembentukan karakter.

Sebagai mahasiswa pertanian, saya sering merasa gelisah ketika melihat jarak antara kami dan realitas yang seharusnya kami perjuangkan. Kami belajar tentang tanah, tanaman, pangan, keberlanjutan, tetapi kadang lupa pada petani-petani yang memikul beban sistem pangan itu sendiri. Seringkali kami bicara tentang pertanian di atas slide PowerPoint, namun jarang menjejak tanah yang menghidupi jutaan orang.

Karena itu, bagi saya, IMM Faperta tidak boleh hanya hidup di ruang rapat dan ruang kelas. Ia harus turun ke tanah, menyentuh realitas, mendengar suara petani, memahami kegelisahan pangan, dan menjadi bagian kecil dari solusi panjang negeri ini. Jika tidak, kita hanya akan menjadi mahasiswa pertanian di atas kertas, bukan di dalam kehidupan.

Mengapa Kita Harus Mengakui “Dosa Kolektif” Terhadap Bumi?

Saya juga sadar, dalam organisasi, sering ada jebakan: merasa hebat karena jabatan. Padahal struktur tidak pernah secara otomatis membuat seseorang bermakna. Yang membuat posisi berarti adalah bagaimana kita menjalankannya. Saya tidak ingin menjadi ketua yang berjarak, yang hanya muncul saat podium, yang hanya hadir dalam foto. Saya ingin menjadi bagian dari proses itu sendiri: mendengar kegelisahan kader, duduk bersama ketika ada konflik, dan belajar bersama saat organisasi berjalan tidak sesuai rencana.

Saya percaya, kepemimpinan bukan soal siapa yang paling keras bicara, tapi siapa yang paling lama mendengar. Bukan siapa yang paling sering tampil, tapi siapa yang paling konsisten mendampingi. Saya ingin PIKOM IMM Faperta menjadi ruang di mana kader tidak takut salah, tidak takut berbeda pendapat, tidak takut berproses. Sebab organisasi yang sehat bukan yang penuh dengan orang-orang patuh, tapi yang hidup dengan perbedaan yang terkelola.

Saya juga ingin menghidupkan kembali ruang intelektual di lingkungan kami. Bukan sekadar diskusi formal, tapi ruang berpikir yang jujur. Tempat membaca bukan menjadi beban, tapi kebutuhan. Tempat menulis bukan menjadi kewajiban, tapi kesadaran. Saya ingin kader-kader IMM Faperta terbiasa berdialog dengan buku, dengan realitas, dan dengan dirinya sendiri.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh konten singkat, saya ingin IMM menjadi tempat orang belajar berpikir panjang. Tidak reaktif, tapi reflektif. Tidak mudah tersulut, tapi mampu menimbang. Tidak sibuk mencari pengakuan, tapi fokus membangun kualitas diri.

Saya sadar, saya tidak akan mampu mengubah semuanya dalam satu periode kepengurusan. Waktu terlalu singkat, tantangan terlalu banyak. Tapi saya percaya, satu periode bukan soal seberapa banyak kegiatan terlaksana, melainkan seberapa banyak kesadaran yang tumbuh.

Apa Kata Ketua: Setelah Jas Dilepas, Apa yang Masih Menyala?

Jika setelah masa kepemimpinan ini selesai, ada kader yang lebih berani berpikir, lebih peka melihat masalah sosial, lebih peduli pada nasib petani, lebih jujur pada dirinya sendiri — maka itu sudah lebih dari cukup bagi saya.

Karena bagi saya, amanah ini bukan tentang meninggalkan nama, tetapi meninggalkan arah.

Bukan tentang dikenang sebagai ketua, tetapi tentang pernah menjadi bagian kecil dari perjalanan orang-orang yang kelak jauh lebih besar dari saya.

Dan selama saya menjabat, itulah yang ingin saya rawat: arah.

Hari Kebangkitan Nasional: Merefleksi Peran Kaum Terdidik dalam Menjawab Tantangan Zaman

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement