IMMNews Faperta, MAKASSAR – Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional sebagai penanda dimulainya babak baru perjuangan kemerdekaan. Tanggal ini bukan sekadar ritus tahunan, melainkan momen penting untuk merenungkan kembali semangat kolektif yang telah diwariskan oleh para pendahulu, khususnya kaum terdidik mereka yang disebut sebagai intelektual bangsa.
Kebangkitan Nasional ditandai dengan berdirinya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Inilah tonggak awal kesadaran nasional yang dibangun bukan dengan senjata, tetapi lewat gagasan, dialog, dan gerakan intelektual. Kala itu, kaum terdidik muncul sebagai pelopor menyatukan suara-suara kecil menjadi arus besar kesadaran akan pentingnya kemerdekaan dan persatuan.
Namun, refleksi terhadap semangat itu seharusnya tak berhenti pada peristiwa sejarah semata. Di tengah derasnya arus zaman, kaum terdidik hari ini—yang tersebar di berbagai kampus, ruang diskusi, dan organisasi mahasiswa—ditantang untuk kembali menegaskan posisinya dalam dinamika sosial. Apakah mereka masih menjadi suara yang menggugah? Atau justru tenggelam dalam rutinitas akademik tanpa arah perjuangan?
Menjawab Realitas Sosial, Bukan Sekadar Menyerap Ilmu
Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi alarm kesadaran bagi kaum terdidik untuk tidak larut dalam zona nyaman. Dunia akademik bukan tempat yang steril dari persoalan sosial. Justru dari ruang-ruang kelas, perpustakaan, hingga forum diskusi, seharusnya lahir gagasan-gagasan segar untuk menjawab problematika kebangsaan: konflik agraria, ketimpangan sosial, krisis lingkungan, hingga ketidakadilan hukum.
Dalam konteks ini, refleksi peran kaum intelektual bukan hanya soal mengingat sejarah. Ini adalah seruan moral untuk bangkit untuk lebih peka terhadap realitas, hadir di tengah masyarakat, serta menggunakan pengetahuan sebagai alat emansipasi dan pembebasan. Keberpihakan terhadap rakyat adalah manifestasi paling konkret dari semangat kebangkitan itu sendiri.
Revitalisasi Peran Organisasi Mahasiswa
Kita juga tak bisa melepaskan peran penting organisasi dalam sejarah kebangkitan bangsa. Budi Utomo, sebagai organisasi modern pertama di Indonesia, menjadi simbol bagaimana kaum muda dan terdidik mengorganisasi diri untuk tujuan kolektif: kemerdekaan. Kini, pesan itu seolah terlupakan. Banyak organisasi mahasiswa terjebak pada rutinitas administratif tanpa napas ideologis.
Padahal, organisasi mahasiswa adalah laboratorium kader bangsa. Ia harus menjadi tempat yang melahirkan nalar kritis, mengasah kepemimpinan sosial, dan membentuk keberanian moral untuk bicara atas nama keadilan. Organisasi tidak hanya penting sebagai wadah ekspresi, tetapi juga sebagai sarana perjuangan mengawal demokrasi, melawan penindasan, serta memperjuangkan suara-suara yang dibungkam.
Bangkit, Bergerak, dan Berdaya
Kaum terdidik di era digital memiliki modal yang tak terbatas akses informasi, kebebasan berpendapat, serta ruang kolaborasi lintas sektor. Namun semua itu akan sia-sia tanpa semangat kebangkitan yang dibarengi komitmen dan keberanian untuk bergerak. Bangkit bukan sekadar semangat personal, melainkan tanggung jawab kolektif untuk membangun masa depan yang lebih adil dan beradab.
Maka, mari jadikan peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini sebagai ruang refleksi: apakah kita masih menjadi bagian dari kaum terdidik yang tercerahkan dan berdaya? Apakah kita masih menyalakan obor kebangsaan di tengah kabut pragmatisme zaman?
Selamat Hari Kebangkitan Nasional
Selamat merefleksikan semangat nasionalisme. Mari kita hidupkan kembali nilai-nilai perjuangan kaum muda terdahulu dalam konteks kekinian. Dari kampus, kita bersuara. Dari organisasi, kita bergerak. Dari realitas sosial, kita belajar untuk mengabdi.
Komentar