Reflektif Kader

Haji Bawakaraeng: Ziarah Langit Kader IMM di Gunung Sakral Sulawesi Selatan

Oleh: Ahmad Syafii Hafid (diasah, diasih, dan diasuh oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah).
Bagikan ke :

IMMNews Faperta, MAKASSAR – Gunung Bawakaraeng, menjulang ±2.830 mdpl, tak sekadar dikenal karena lanskap alamnya yang menawan atau jalur pendakian yang menantang. Di balik kabutnya yang tebal dan sunyinya yang pekat, gunung ini menyimpan cerita turun-temurun, mitos suci, dan tradisi unik yang masih hidup hingga hari ini. Di kalangan masyarakat lokal, terutama di wilayah Gowa dan sekitarnya, Bawakaraeng bukan hanya gunung ia adalah tempat suci, simbol spiritual, bahkan dikenal sebagai Tanah Haram kedua: “Haji Bawakaraeng.”

“Di Bawakaraeng, langkah seolah berubah menjadi tasbih. Setiap batu berbicara tentang kerendahan hati, setiap kabut menanyai kemurnian niat.”

Gunung sebagai Ruang Didik IMM

IMM, sebagai gerakan mahasiswa berbasis Islam, terbiasa berdialektika di ruang kelas serta jalanan demonstrasi. Namun Bawakaraeng menawarkan ruang lain: sunyi. Bagi kader, sunyi gunung adalah forum terhening untuk tazkiyatun nafs pembersihan diri sebelum kembali mengabdi.

  • Saat carrier kian berat, kader belajar memetakan prioritas: mana barang penting, mana beban sia-sia ibarat program kerja komisariat.
  • Mitos larangan bersikap sombong mengingatkan bahwa kesombongan intelektual sama rapuhnya dengan tanah licin di Tanjakan 60°.
  • Kabut yang memanggil dalam legenda lokal menyindir “kebisingan” distraksi digital; jawaban terbaiknya adalah diam dan fokus.

Puncak Bukan Final

Banyak pendaki terjebak euforia foto puncak, lalu lupa menata hati turun. IMM diajak merefleksi: agenda besar organisasi bukan tentang mencapai jabatan ketua, melainkan pulang ke masyarakat membawa manfaat.

“Kadang yang berat itu bukan carrier, tapi dosa.”

Di pos-pos peristirahatan, mendiskusikan konsep amar makruf nahi munkar. Bawakaraeng menjelma laboratorium “kuliah lapangan” yang menguji teori kaderisasi IMM: Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas.

Menjaga Sakralitas & Ekologi

Bawakaraeng juga memanggil etika ekologis. Sampah plastik, tisu, botol kerap mengotori jalur. Kader IMM perlu menjadi pionir #ZeroWasteHike memastikan sakralitas tak tercemar perilaku profan.

Menutup dengan Renungan

“Banyak yang naik Bawakaraeng untuk selfie di puncak. Tapi sedikit yang naik untuk melihat ke dalam diri sendiri.”

Gunung ini mengajarkan kita banyak hal. Tentang kesabaran, tentang batas tubuh, dan tentang batin yang sedang menempuh perjalanan. Ia tak meminta kita percaya pada mitosnya, tapi mengajak kita menyelami makna yang tersembunyi di balik keyakinan orang-orang yang datang dengan niat suci.

Menapak Sunyi, Membawa Cahaya

Dan sebagai kader IMM, kita tahu betul:
Perjuangan tak selalu dimulai dari rapat, orasi, atau diskusi. Kadang, perjuangan dimulai dari menundukkan kepala di tengah kabut gunung, menyadari betapa kecilnya kita, lalu pulang membawa rasa hormat yang lebih dalam pada ciptaan Tuhan dan sesama manusia.

“Di Bawakaraeng, kami tidak hanya mendaki gunung. Kami mendaki kesadaran.”

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement